Minggu, 10 Juni 2012

pragmatik: struktur percakapan

STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERENSI

            Interaksi sosial merupakan suatu situasi dimana terjadi sebuah komunikasi yang melibatkan komponen komunikasi. Dalam interaksi sosial terdapat suatu percakapan yang mengandung sebuah informasi yang disampaikan selama proses interaksi berlangsung. Percakapan adalah bentuk kegiatan yang paling mendasar yang dilakukan oleh manusia untuk menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Dengan melakukan percakapan, manusia dapat saling mengungkapkan pikiran dan perasaanya, juga dapat saling bertukar informasi untuk memenuhi kebutuhannya. Jenis percakapannyapun mungkin berbeda menurut konteks interaksi yang berbeda. Percakapan tersebut tentunya mengandung struktur pembicaraan. Pola dasar dari struktur pembicaraan yaitu “saya bicara – anda bicara – saya bicara – anda bicara”. Pola dasar ini disebut dengan struktur percakapan. Struktur percakapan adalah apa saja yang sudah kita asumsikan sebagai suatu yang sudah dikenal baik melalui diskusi sebelumnya. Pola dasar percakapan ini berasal dari jenis interaksi mendasar yang pertama kali diperoleh dan yang paling sering digunakan.

ANALISIS PERCAKAPAN
            Analisis percakapan merupakan suatu rangkaian yang menarik dalam ilmu komunikasi. Pada dasarnya percakapan merupakan manifestasi dalam membangun sebuah interaksi. Dalam struktur percakapan terdapat “suatu kesempatan bicara” atau hak untuk bicara. Kesempatan tersebut memotivasi seseorang berusaha untuk mengambil alih giliran yaitu pengambilan giliran. Kemungkinan adanya suatu perubahan siapa yang mendapat giliran bicara tersebut. kemungkinan perubahan giliran tersebut disebut Tempat Relevansi Pertukaran (TRP).
Entitas penggunaan bahasa dalam percakapan tersebut dapat dilihat dua aspek yaitu aspek isi percakapan dan aspek formal percakapan. Aspek isi percakapan ini meliputi topik yang menjadi pokok pembicaraan, dan penyampaian topik dalam percakapan. Adapun aspek formal percakapan meliputi hal-hal bagaimana percakapan itu bekerja, aturan-aturan yang dipatuhi, dan bagaimana mekanisme dalam memperoleh kesempatan bicara atau giliran bicara (turn-taking).
            Giliran bicara (turn-taking) adalah waktu dimana penutur kedua mengambil alih giliran berbicara dari penutur sebelumnya, dan juga sebaliknya. Pengambilan giliran ini merupakan suatu bentuk aksi sosial yang berjalan menurut sistem pengaturan setempat secara konvensional. Pergantian dari setiap penutur berikutnya sangat dihargai. Pertukaran disertai dengan kesenyapan yang lama atau adanya overlaps. Apabila pertukaran yang disertai dengan kesenyapan yang lama diantara dua giliran, maka dirasakan percakapan yang terjadi terasa kaku. Jeda yang sangat pendek merupakan bentuk keragu-raguan, sedangkan jeda yang panjang menjadi kesenyapan. Strategi dalam turn-taking ada tiga jenis yaitu:
·         Taking the floor yaitu waktu dimana penutur pertama atau penutur selanjutnya mengambil alih giliran bicara. Jenis-jenis taking the floor antara lain:
- Starting up (mengawali pembicaraan) bisa dilakukan dengan keragu-raguan atau ujaran yang jelas.
- Taking over yaitu mengambil alih giliran berbicara (bisa diawali dengan konjungsi).
- Interupsi, yaitu mengambil alih giliran berbicara karena penutur yang akan mengambil alih giliran bicara merasa bahwa pesan yang perlu disampaikan oleh penutur sebelumnya sudah cukup sehingga giliran bicara diambil alih oleh penutur selanjutnya.
- Overlap, yaitu penutur selanjutnya memprediksi bahwa penutur sebelumnya akan segera memberikan giliran berbicara kepada penutur selanjutnya, maka ia mengambil alih giliran berbicara. Lambang transkripnya (//)
·         Holding the floor, yaitu waktu dimana penutur sedang mengujarkan ujaran-ujaran, serta bagaimana penutur mempertahankan giliran berbicaranya.
·         Yielding the floor yaitu waktu dimana penutur memberikan giliran berbicara kepada penutur selanjutnya.
Dalam sebuah mekanisme pergantian giliran yang diperpanjang, penutur berharap bahwa lawan tutur mereka menunjukkan bahwa mereka mendengarkan. Salah satu cara untuk menunjukkan tanggapan tersebut adalah dengan ekspresi wajah, senyuman dan isyarat-isyarat lain, namun indikasi vokal yang paling umum disebut dengan backcannel.  Misalnya:
Fitri     : Jika anda banyak menggunakan layanan jarak jauh, anda akan...
Ana     : uh-uh
Fitri     : tertarik pada potongan harga yang sedang saya katakan karena...
Ana     : yeah
Fitri     : layanan ini dapat menyelamatkan uang Anda untuk mengubah menjadi layanan yang lebih murah.
Ana     : mmm
            Jenis-jenis penanda (uh-uh, yeah, dan mmm) merupakan penanda yang mestinya menunjukkan bahwa pendengar mengikuti apa yang dikatakan oleh penutur dan tidak menolaknya. Dalam interaksi tatap muka, ketiadaan backchannel mungkin ditafsirkan sebagai cara pelanggaran kesepakatan yang mengarah pada interferensi ketidak-sepakatan.

GAYA BICARA
            Karakteristik sistem pengambilan giliran bicara dimasukkan dalam makna oleh pemakainya. Dalam sebuah percakapan terdapat pembicaraan yang relatif cepat hampir tanpa jeda diantara giliran bicara, dan disertai adanya sedikit overlap atau bahkan penyempurnaan giliran yang disebut gaya bicara (gaya pelibatan tinggi). Namun, adanya gaya bicara yang menghendaki pembicaraan yang relatif lambat, mengharapkan jeda yang lebih lama diantara giliran bicara, tidak tumpang tindih, dan menghindari interupsi tanpa adanya pemaksaan, inilah yang disebut gaya solidaritas tinggi. Kedua gaya tersebut tidak bisa digunakan dengan bergantian secara bersamaan dengan penutur, maksudnya apabila penutur menggunakan gaya pertama memasuki percakapan dengan penutur lain yang menggunakan gaya kedua, maka percakapan tersebut cenderung bertolak belakang. Kecenderungan yang bertolak belakang tersebut menimbulkan prasangka-prasangka terhadap penutur.

PASANGAN AJASENSI
            Pasangan ajasensi (adjacency pairs) merupakan jenis tuturan oleh penutur yang membutuhkan jenis tuturan dari penutur yang lain. Tuturan ini terjadi secara berpasangan, yang terdiri atas bagian pertama dan bagian kedua. Misalnya tuturan: Siapa namamu?, tuturan ini secara tidak langsung mempunyai esensi sebuah jawaban yang ditujukan terhadap penutur kedua. Adapun tipe-tipe pasangan ajasensi sebagai berikut:
a)      Salam (pembukaan) 
Vita     : Apa kabar, Vit?
Dita     : Seperti biasanya.
b)      Tanya jawab.
Endik  : Apa pekerjaanmu sekarang:
Antok  : Aku bekerja di Bank Mandiri.         
c)      Menawarkan-menerima dari menolak.
Dimas  : Apakah kamu ingin minum teh?
Imam   : Ya, boleh. atau
              Tidak, terima kasih
d)     Berpisah
Dimas  : Sampai jumpa.
Imam   : Sampai ketemu kembali.
            Akan tetapi, tidak seluruh bagian pertama menerima dengan cepat menerima bagian kedua. Terjadinya urutan tanya jawab ditunda ketika tata urutan tanya jawab yang lain menghadang. Urutan penundaan tersebut dinamakan dengan urutan sisipan.
Dery    : Apakah besok pagi aku bisa mengantarmu ke kampus?
Fitri     : Apakah besok kuliah pagi?
Dery    : Ya.
Fitri     : Baiklah.
Contoh tersebut terjadi tata urutan sisipan, merupakan satu jenis petunjuk bahwa tidak semua bagian pertama harus menerima jenis bagian kedua yang mungkin diantisipasi oleh penutur. Penundaan jawaban secara simbolik menandakan tidak tersedianya jawaban potensial yang dihaapkan secara cepat (yaitu otomatis yang wajar).

STRUKTUR PREFERENSI
            Dalam pasangan ajasensi terdiri atas dua bagian yaitu bagian pertama dan bagian kedua. Pada dasarnya bagian pertama yang berisi permohonan atau tawaran yang khusus dibuat dengan harapan bahwa bagian merupakan persetujuan atau pengabulan. Pengabulan secara struktural memungkinkan daripada penolakan.  Adanya kemungkinan struktural tersebut disebut preferensi. Artinya, struktur preferensi menunjukkan pola struktural tertentu secara sosial dan tidak mengacu pada sikap seseorang atau keinginan emosi. Struktur preferensi dibagi menjadi dua bagian yaitu: tindakan sosial yang disukai (ada tindak lanjut) dan tindakan sosial yang tidak disukai (tidak ada tindak lanjut).
            Pola umum struktur preferensi sebagai berikut:
Bagian pertama
Bagian kedua
Disukai
Tidak disukai
Penilaian
Setuju
tidak setuju
ajakan
Menerima
Menolak
Tawaran
menerima
Menolak
Proposal
setuju
tidak setuju
Permohonan
menerima
Menolak
Misalnya:
a)      Penilaian
Via      : Bukankah baju ini bagus?
Afril    : Ya, warnanya cerah.
b)      Ajakan:
Sofia    : Ikutlah nanti malam di acara syukuran.  
Vivin   : Oh, ya nanti saya usahakan.
c)      Tawaran
Dodi    : Apa kamu ingin makan bakso?
Yuli     : Ya, boleh.
d)     proposal
Ana     : Mungkin aku tidak bisa datang.
Dedi    : Baiklah.
e)      Permohonan
Maria   : Bisakah kamu membantuku?
Linia    : Tentu.
Terkadang, dalam pasangan ajasensi tersebut terdapat kesenyapan pada bagian pertama. Namun, apabila kesenyapan itu terjadi pada bagian kedua selalu menjadi petunjuk jawaban yang tidak disukai. Misalnya:
Fresty  : Tapi saya yakin mereka tidak memiliki makanan yang baik di sana.
              (1.6 detik)
Fresty  : Hmm-saya kira makanannya tidak bagus.
Udin    : Nah-sebagian besar orang nonton musik.
            Tanda isyarat diamnya Udin terjadi ketika ia bermaksud mengutarakan suatu ketidak setujuan (jawaban yang tidak disukai) berkaitan dengan penilain Fresty. Ketiada-jawaban berarti penutur tidak berada dalam posisi memberikan jawaban yang disukai. Dalam perspektif pragmatik, pengungkapan bagian yang disukai (jawaban terhadap suatu tuturan atau ajakan) menggambarkan suatu hubungan keakraban dan hubungan cepat. Pengungkapan pada bagian yang tidak disukai menggambarkan renggangnya hubungan.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar